TUGAS SISTEM
IMUNE DAN HEMATOLOGI
Pertanyaan 1
Jelaskan
perbedaan dari eritrosit, platelet/trombosit, dan leokosit secara
mendetail !
Jawaban
a. Eritrosit
Pengertian & Fungsi
Eritrosit ( Sel Darah Merah )
Sel Darah
Merah/Eritrosit
- Ukuran: 6 – 9 mm
- Bentuk: bulat
- Warna sitoplasma: merah jambu atau abu-abu
- Granularitas: tidak ada
- Distribusi dalam darah: > 90 % dari eritrosit normal dalam darah
Eritrosit merupakan
bagian utama dari sel-sel darah. Setiap mm kubiknya darah pada seorang
laki-laki dewasa mengandung kira-kira 5 juta sel darah merah dan pada seorang
perempuan dewasa kira-kira 4 juta sel darah merah.
Tiap-tiap sel darah
merah mengandung 200 juta molekul hemoglobin. Hemoglobin (Hb) merupakan suatu
protein yang mengandung senyawa besi hemin. Hemoglobin mempunyai fungsi
mengikat oksigen di paru-paru dan mengedarkan ke seluruh jaringan tubuh. Jadi,
dapat dikatakan bahwa di paruparu terjadi reaksi antara hemoglobin dengan
oksigen.
2 Hb2+ 4 O2 ==> 4 Hb
O2 (oksihemoglobin)
Setelah sampai di
sel-sel tubuh, terjadi reaksi pelepasan oksigen oleh Hb.
4 Hb O2 ==> 2 Hb2+ 4
O2
Kandungan hemoglobin
inilah yang membuat darah berwarna merah. Amatilah Gambar 5.2 untuk mengenal
struktur hemoglobin.
Struktur Eritrosit
Eritrosit mempunyai
bentuk bikonkaf, seperti cakram dengan garis tengah 7,5 uM dan tidak berinti.
Warna eritrosit kekuning-kuningan dan dapat berwarna merah karena dalam
sitoplasmanya terdapat pigmen warna merah berupa hemoglobin.
Pembentukan Eritrosit
Eritrosit dibentuk
dalam sumsum merah tulang pipih, misalnya di tulang dada, tulang selangka, dan
di dalam ruas-ruas tulang belakang. Pembentukannya terjadi selama tujuh hari.
Pada awalnya eritrosit mempunyai inti, kemudian inti lenyap dan hemoglobin
terbentuk. Setelah hemoglobin terbentuk, eritrosit dilepas dari tempat
pembentukannya dan masuk ke dalam sirkulasi darah.
Eritrosit dalam tubuh
dapat berkurang karena luka sehingga mengeluarkan banyak darah atau karena
penyakit, seperti malaria dan demam berdarah. Keadaan seperti ini dapat
mengganggu pembentukan eritrosit.
Masa Hidup Eritrosit
Masa hidup eritrosit
hanya sekitar 120 hari atau 4 bulan, kemudian dirombak di dalam hati dan limpa.
Sebagian hemoglobin diubah menjadi bilirubin dan biliverdin, yaitu pigmen biru
yang memberi warna empedu. Zat besi hasil penguraian hemoglobin dikirim ke hati
dan limpa, selanjutnya digunakan untuk membentuk eritrosit baru. Kira-kira
setiap hari ada 200.000 eritrosit yang dibentuk dan dirombak. Jumlah ini kurang
dari 1% dari jumlah eritrosit secara keseluruhan.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi pembentukan darah adalah :
a. Komponen (bahan) yang berasal dari makanan terdiri dari !
• Protein, glukosa, dan lemak
• Vitamin B12, asam folat, dan vitamin C
• Elemen dasar : Fe, 100 CU dan zink
b. Sumber pembentukan darah
• Sumsum tulang
c. Kemampuan resorgsi usus halus terhadap bahan yang diperlukan
d. Umur sel darah merah (entrofit) terbatas sekitar 120 hari. Sel-sel darah merah yang sudah tua di hancurkan kembali menjadi bahan baku untuk membentuk sel darah yang baru
e. Terjadinya perdarahan kronik (menahun)
• Gangguan menstruasi
• Penyakit yang menyebabkan perdarahan pada wanita seperti, mioma uteri, polip serviks, penyakit darah
• Parasit dalam usus : askariasis, ankilotomiasis, taenia.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut diatas, diatas dapat digolongkan menjadi :
1. Anemia, difisiensi best (kekurangan zat besi)
2. Anemia mengaloglastika (kekurangan vitamin B12)
3. Anemia hemolitik (pemecahan sel-sel darah, lebih cepat dari pembentukan)
4. Anemia hipoplastik (gangguan pembentukan sel-sel darah)
Pengaruh anemia pada kehamilan dan janin
1. Pengaruh anemia terhadap kehamilan
a. Bahaya selama kehamilan
• Dapat terjadi abortus
• Persalinan prematuristik
• Hambatan tumbang janin dalam rahim
• Mudah terjadi infeksi
• Meta hidahedosa
• Perdarahan enteperatum
• Ketuban pecah dini (KPD)
b. Bahaya saat persalinan
• Gangguan his – kekuatan mengejan
• Kala pertama dapat berlangsung lama, dan terjadi partus terlantar
• Kala dua berlangsung lama
• Kala uri dapat diikuti retensio placenta, dan perdarahan post partum karena stonis utri
• Kala empat dapat terjadi perdarahan post partum sekunder dan atonia uteri.
c. Pada kala nifas
• Terjadi sub involusi uteri menimbulkan perdarahanpost partum
• Memudahkan infeksi, peurperium
• Pengerluaran ASI berkurang
• Anemia kala nifas
• Mudah terjadi infeksi, mamae
2. Bahaya terhadap janin
Akibat anemia dapat terjadi gangguan dalam bentuk :
• Abortus
• Terjadi kematian intrauteri
• Persalinan prematur tinggi
• BBLR
• Kelahiran dengan anemia
• Dapat terjadi cacat bawaan
• Bayi mudah mendapat infeksi sampai kematian perinatal
a. Komponen (bahan) yang berasal dari makanan terdiri dari !
• Protein, glukosa, dan lemak
• Vitamin B12, asam folat, dan vitamin C
• Elemen dasar : Fe, 100 CU dan zink
b. Sumber pembentukan darah
• Sumsum tulang
c. Kemampuan resorgsi usus halus terhadap bahan yang diperlukan
d. Umur sel darah merah (entrofit) terbatas sekitar 120 hari. Sel-sel darah merah yang sudah tua di hancurkan kembali menjadi bahan baku untuk membentuk sel darah yang baru
e. Terjadinya perdarahan kronik (menahun)
• Gangguan menstruasi
• Penyakit yang menyebabkan perdarahan pada wanita seperti, mioma uteri, polip serviks, penyakit darah
• Parasit dalam usus : askariasis, ankilotomiasis, taenia.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut diatas, diatas dapat digolongkan menjadi :
1. Anemia, difisiensi best (kekurangan zat besi)
2. Anemia mengaloglastika (kekurangan vitamin B12)
3. Anemia hemolitik (pemecahan sel-sel darah, lebih cepat dari pembentukan)
4. Anemia hipoplastik (gangguan pembentukan sel-sel darah)
Pengaruh anemia pada kehamilan dan janin
1. Pengaruh anemia terhadap kehamilan
a. Bahaya selama kehamilan
• Dapat terjadi abortus
• Persalinan prematuristik
• Hambatan tumbang janin dalam rahim
• Mudah terjadi infeksi
• Meta hidahedosa
• Perdarahan enteperatum
• Ketuban pecah dini (KPD)
b. Bahaya saat persalinan
• Gangguan his – kekuatan mengejan
• Kala pertama dapat berlangsung lama, dan terjadi partus terlantar
• Kala dua berlangsung lama
• Kala uri dapat diikuti retensio placenta, dan perdarahan post partum karena stonis utri
• Kala empat dapat terjadi perdarahan post partum sekunder dan atonia uteri.
c. Pada kala nifas
• Terjadi sub involusi uteri menimbulkan perdarahanpost partum
• Memudahkan infeksi, peurperium
• Pengerluaran ASI berkurang
• Anemia kala nifas
• Mudah terjadi infeksi, mamae
2. Bahaya terhadap janin
Akibat anemia dapat terjadi gangguan dalam bentuk :
• Abortus
• Terjadi kematian intrauteri
• Persalinan prematur tinggi
• BBLR
• Kelahiran dengan anemia
• Dapat terjadi cacat bawaan
• Bayi mudah mendapat infeksi sampai kematian perinatal
LEUKOSIT
Jumlah
Leukosit (Sel Darah Putih)
Jumlah
leukosit lebih sedikit dibandingkan dengan eritrosit. Pada laki-laki dan
perempuan dewasa setiap mm kubiknya darah hanya terdapat kira-kira 4.500 sampai
10.000 jumlah butir. Leukosit mempunyai bentuk bervariasi dan mempunyai ukuran
lebih besar dari eritrosit. Leukosit mempunyai inti bulat dan cekung. Sel-sel
ini dapat bergerak bebas secara amuboid serta dapat menembus dinding kapiler
(diapedesis).
Jenis
Leukosit
Leukosit
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu leukosit granulosit ( plasmanya bergranula =
basofil , eosinofil, neutrofil ) dan leukosit agranulosit ( plasmanya tidak
bergranula = limfosit, monosit ).

TROMBOSIT
Trombosit merupakan unsur dasar dalam darah yang
berperan pada proses koagulasi dengan melindungi integritas endotel
pembuluh darah dan memulai perbaikan jika ada kerusakan dinding pembuluh darah
(hemostasis primer). Trombosit berasal dari pecahan sitoplasma megakariosit di
sumsum tulang, pematangan dan proliferasi megakariosit dikendalikan
trombopoetin, suatu hormon mirip eritropoetin. Ukuran diameter trombosit
bervariasi dari 1 sampai 4 µm bahkan kadang lebih besar dimana beredar
sekitar 10 hari sebagai sel berbentuk piringan dan tidak berinti. Dalam keadaan
normal, sepertiga kompartemen trombosit disekuestrasi di limpa.
Agar terjadi hemostasis primer normal dan trombosit
membentuk sumbat inisial, maka jumlah trombosit harus memadai di sirkulasi dan
berfungsi normal. Awalnya terjadi adhesi trombosit, agregasi trombosit, dan
reaksi pembebasan trombosit disertai rekrutmen trombosit lain. Uji
laboratorium menilai fungsi trombosit yakni :
- Hitung Trombosit : Cara paling cepat dan sederhana, tetapi kurang akurat. Jumlah trombosit dapat dihitung secara manual dan elektronik. Harga normal 150.000 sampai 450.000 sel/µL.
- Agregasi Trombosit : Diukur dengan menimbulkan kontak plasma kaya trombosit dan zat penginduksi agregasi seperti kolagen, epinefrin, antibiotic ristosetin, ADP,dll.
- Waktu Perdarahan : Uji ini sulit distandarisasi dimana hasilnya berbeda di bagian kulit dan kondisi eksternal yang berbeda, juga tindakan insisi kulit standar yang dilakukan beberapa kali tidak menyenangkan bagi pasien.
- Retensi Trombosit : Melakukan penghitungan kuantitatif jumlah trombosit yang melekat ke butir-butir kaca dan sekarang sudah jarang dilakukan.
- Beta-Thromboglobulin dan Faktor Trombosit 4 : Pemeriksaan terhadap produk trombosit seperti beta thromboglobulin, factor 3 dan 4, dan zat antara prostaglandin.
Pertanyaan 2
Jelaskan kaitan
antara keseimbangan air, elektrolit dan asam basa serta jelaskan fisiologi
elektrolit dan bagian-bagiannya !
Jawaban :
KESEIMBANGAN
CAIRAN DAN ELEKTROLIT
SERTA
KESEIMBANGAN ASAM BASA
Pengaturan keseimbangan elektrolit
Pengaturan kebutuhan cairan dan elektrolit dalam tubuh diatur oleh ginjal,
kulit, paru, dan gastrointestinal. Selain itu, pengaturan keseimbangan cairan
dapat meialui sistem atau mekanisme rasa haus yang harus dikontrol oleh sistem
hormonal, yakni ADH (anti diuretik hormon), sistem aldosteron, prostaglandin,
dan glukokortikoid.
1. Difusi
Difusi merupakan bercampurnya molekul-molekul dalam cairan, gas, atau cat padat secara bebas atau acak. Proses difusi dapat terjadi bila dua zat bercarnpur dalam sel membran. Dalam tubuh, proses difusi air, elektrolit, dan zat-zat lain terjadi melalui membran kapiler yang permeabel. Kecepatan proses difusi bervariasi tergantung pada faktor ukuran molekul, konsentrasi cairan, dan temperatur cairan.
Zat dengan molekul yang besar akan bergerak lambat dibanding rnolekul kecil. Moiekul akan lebih mudah berpindah dari larutan berkonsentrasi tinggi ke larutan berkonsentrasi rendah. Larutan dengan konsentrasi yang tinggi akan mempercepat pergerakan molekul, sehingga proses difusi berjalan lebih cepat.
2. Osmosis
Osmosis adalah proses perpindahan zat ke larutan lain melalui membran semipermeabel biasanya terjadi dari larutan dengan konsentrasi yang kurang pekat ke larutan dengan konsentrasi lebih pekat. Solut adalah zat pelarut, sedang solven adalah larutannya. Air merupakan solven, sedang garam adalah solut. Proses osmosis ini penting dalam pengaturan keseimbangan cairan ekstra dan intrasel.
Osmolaritas adalah cara untuk mengukur kepekatan larutan dengan menggunakan satuan mol. Natrium dalam NaCl berperan penting dalam pengaturan keseimbangan cairan dalam tubuh. Apabila ada tiga jenis larutan garam dengan kepekatan yang berbeda, dan di dalamnya di masukkan sel darah merah maka larutan yang mempunyai kepekatan sama yang akan seimbang dan berdifusi terlebih dahulu. Larutan NaCl 0,9 % merupakan larutan yang isotonik, karena larutan NaC 1 mempunyai kepekatan yang sama dengan larutan dalam sistem vaskular. Larutan isotonik merupakan larutan yang mempunyai kepekatan sama dengan larutan yang dicampur. larutan liipotonik mempunyai kepekatan lebih rendah dibanding dengan larutan intrasel.
Pada proses osmosis, dapat terjadi perpindahan larutan dengan kepekatan rendah ke larutan yang kepekatannya lebih tinggi melalui rnembran semipermeabel, sehingga larutan yang berkonsentrasi rendah volumenya akan berkurang, sedangkan larutan yang berkonsentrasi lebih tinggi akan bertambah volumenya
1. Difusi
Difusi merupakan bercampurnya molekul-molekul dalam cairan, gas, atau cat padat secara bebas atau acak. Proses difusi dapat terjadi bila dua zat bercarnpur dalam sel membran. Dalam tubuh, proses difusi air, elektrolit, dan zat-zat lain terjadi melalui membran kapiler yang permeabel. Kecepatan proses difusi bervariasi tergantung pada faktor ukuran molekul, konsentrasi cairan, dan temperatur cairan.
Zat dengan molekul yang besar akan bergerak lambat dibanding rnolekul kecil. Moiekul akan lebih mudah berpindah dari larutan berkonsentrasi tinggi ke larutan berkonsentrasi rendah. Larutan dengan konsentrasi yang tinggi akan mempercepat pergerakan molekul, sehingga proses difusi berjalan lebih cepat.
2. Osmosis
Osmosis adalah proses perpindahan zat ke larutan lain melalui membran semipermeabel biasanya terjadi dari larutan dengan konsentrasi yang kurang pekat ke larutan dengan konsentrasi lebih pekat. Solut adalah zat pelarut, sedang solven adalah larutannya. Air merupakan solven, sedang garam adalah solut. Proses osmosis ini penting dalam pengaturan keseimbangan cairan ekstra dan intrasel.
Osmolaritas adalah cara untuk mengukur kepekatan larutan dengan menggunakan satuan mol. Natrium dalam NaCl berperan penting dalam pengaturan keseimbangan cairan dalam tubuh. Apabila ada tiga jenis larutan garam dengan kepekatan yang berbeda, dan di dalamnya di masukkan sel darah merah maka larutan yang mempunyai kepekatan sama yang akan seimbang dan berdifusi terlebih dahulu. Larutan NaCl 0,9 % merupakan larutan yang isotonik, karena larutan NaC 1 mempunyai kepekatan yang sama dengan larutan dalam sistem vaskular. Larutan isotonik merupakan larutan yang mempunyai kepekatan sama dengan larutan yang dicampur. larutan liipotonik mempunyai kepekatan lebih rendah dibanding dengan larutan intrasel.
Pada proses osmosis, dapat terjadi perpindahan larutan dengan kepekatan rendah ke larutan yang kepekatannya lebih tinggi melalui rnembran semipermeabel, sehingga larutan yang berkonsentrasi rendah volumenya akan berkurang, sedangkan larutan yang berkonsentrasi lebih tinggi akan bertambah volumenya
Tekanan Cairan
Perbedaan lokasi antara di interstisial dan pada ruang vaskuler
menimbulkan tekanan cairan yaitu tekanan hidrostatik dan tekanan onkotik atau
osmotik koloid.
Tekanan hidrostatik adalah tekanan yang disebabkan karena volume
cairan dalam pembuluh darah akibat kerja dari organ tubuh.
Tekanan onkotik merupakan tekanan yang disebabkan karena plasma
protein.
Perbedaan
tekanan kedua tersebut mengakibatkan pergerakan cairan. Misalnya terjadinya
filtrasi pada ujung arteri, tekanan hidrostatik lebih besar dari tekanan
onkotik sehingga cairan dalam vaskuler akan keluar menuju interstisial.
Sedangkan pada ujung vena pada kapiler, tekanan onkotik lebih besar sehingga
cairan dapat masuk dari ruang interstisial ke vaskuler. Pada keadaan tertentu,
dimana serum protein rendah, tekanan onkotik menjadi rendah atau kurang maka
cairan akan di absorpsi ke ruang vaskuler.
Proses difusi dan osmosis melibatkan adanya tekanan cairan. Proses osmotik
juga menggunakan tekanan osmotik, yang merupakan kemampuan partikel pelarut
untuk menarik larutan melalui membran. Bi1a dua larutan dengan perbedaan
konsentrasi maka larutan yang mempunyai konsentrasi lebih pekat molekul intinya
tidak dapat bergabung, larutan tersebut disebut: koloid. Sedangkan larutan yang
mempunyai kepekatan yang sama dapat becrgabung maka larutan tersebut discbut
kristaloid. Scbagai contoh, larutan kristaloid adalah larutan garam. Sedangkan
koloid adalah apabila protein bercampur dengan plasma. Secara normal,
perpindahan cairan menembus membran sel permeabel tidak terjadi. Prinsip
tekanan osmotik ini sangat penting dalam proses pembcrian cairan intravena.
Biasanya larutan yang sering digunakan dalam pemberian infus intrmuskular
bersifat isotonik karena mempunvai konsentrasi yang sama dengan plasma darah.
Hal ini penting untuk mencegah perpindahan cairan dan elektrolit ke dalam
intrasel. larutan intravena yang hipotonik, yang larutan mempuyai konsentrasi
kurang pekat disbanding dengan konsenirasi plasma darah. Hal ini menyebabkan
tekanan osmotic plasma akan lebih besar dibandingkan dengan tekanan osmotik
cairan interstisial, karena konsentrasi protein dalam plasma lebih besar
disbanding cairan interstisial dan molekul protein lebih besar, maka akan
terbentuk larutan koloid Yang sulit menembus membran semipermiabel. Tekanan
hidrostatik adalah kemampuan tiap molekul larutan yang bergerak dalam ruang
tertutup. Hal ini penting untuk pengaturan keseimbangan cairan ekstra dan
intrasel.
b. Membran semipermiabel merupakan penyaring agar cairan yang bermolekul besar tidak tergabung. Membran semipermiabel ini terdapat pada dinding kapiler pembuluh darah, Yang terdapat di seluruh tubuh sehingga molekul atau zat lain tidak berpindah ke jaringan.
b. Membran semipermiabel merupakan penyaring agar cairan yang bermolekul besar tidak tergabung. Membran semipermiabel ini terdapat pada dinding kapiler pembuluh darah, Yang terdapat di seluruh tubuh sehingga molekul atau zat lain tidak berpindah ke jaringan.
Keseimbangan
Cairan
a.
Intake cairan dan output cairan
Keseimbangan
cairan terjadi apabila kebutuhan cairan atau pemasukan cairan sama dengan
cairan yang dikeluarkan.
1) Intake cairan
Pada
keadaan suhu dan aktivitas yang normal rata-rata pada orang dewasa minum antara
1300-1500 ml perhari, sedangkan kebutuhan cairan tubuh sekitar 2600ml, sehingga
kekuarangan 1100-1300 ml. kekurangan cairan tersebut diperoleh dari pencernaan
makanan sayur-sayuran mengandung 90% air, buah-buahan 85% dan daging 60% air.
Kekurangan cairan dapt diperoleh dari makanan dan oksidasi selama proses
pencernaan makan
Intake
cairan meliputi:
Minum
|
:
|
1300
ml
|
Pencernaan
makanan
|
:
|
1000
ml
|
Oksidasi
metabolik
|
:
|
300 ml
|
Jumlah
|
:
|
2600
ml
|
Kebutuhan Intake cairan berdasarkan umur dan berat badan:
No
|
Umur
|
BB(KG)
|
Kebutuhan Cairan
|
1
|
3 hari
|
3
|
250-300
|
2
|
1 tahun
|
9,5
|
1150-1300
|
3
|
2 tahun
|
11,8
|
1350-1500
|
4
|
6 tahun
|
20
|
1800-2000
|
5
|
10 tahun
|
28,7
|
2000-2500
|
6
|
14 tahun
|
45
|
2200-2700
|
7
|
18 tahun
|
54
|
2200-2700
|
2) Output Cairan
Kehilangan
cairan dapat melalui 4 (empat) rute yaitu:
a) Urine
Proses pembentukan urine oleh ginjal dan ekresi melalui tractus
urinariusmerupakan proses output cairan tubuh yang utama. Dalam kondisi
normaloutput urine sekitar 1400-1500 ml per 24 jam, atau sekitar 30-50 ml per
jam.Pada orang dewasa. Pada orang yang
sehat kemungkinan produksi urine bervariasi dalam setiap harinya,
bila aktivitas kelenjar keringat meningkat maka produksi urine akan menurun sebagai upaya tetap
mempertahankankeseimbangan dalam tubuh.
b) Keringat
Berkeringat terjadi sebagai respon terhadap kondisi tubuh yang
panas, respon ini berasal dari
anterior hypotalamus, sedangkan impulsnya ditransfer melalui sumsum tulang
belakang yang dirangsang oleh susunan syaraf simpatis padakulit.besarnya
tergantung dari aktivitas, jumlahnya 0-500 ml
c) Insensible water loss (IWL)
IWL
merupakan pengeluaran cairan yang sulit diukur, pengeluaran ini melalui kulit
dan paru-paru/pernapasan. Jumlahnya sekitar 1000-1300ml. keadaan demam dan
aktivitas meningkatkan metabolisme dan produksi panas, sehingga meningkatkan
produksi cairan pada kulit dan pernapasan.
d) Feses
Pengeluaran air melalui
feces berkisar antara 100-200 mL per hari, yang diatur melalui mekanisme reabsorbsi di
dalam mukosa usus besar (kolon)
Pengeluaran cairan meliputi:
Ginjal
|
:
|
1500
ml
|
Melalui
keringat
|
:
|
0-500
ml
|
Insensible
water loss (IWL):
Kulit
Paru-paru
|
:
:
|
600-900
ml
400
ml
|
Feses
|
:
|
100
ml
|
Jumlah
|
:
|
2600-2900
ml
|
b.
Pengaturan Keseimbangan Cairan
Untuk
menjaga keseimbangan cairan tubuh, ada beberapa mekanisme tubuh diantaranya:
1) Rasa Haus
Pusat
rasa haus berada pada hypotalamus dan diaktifkan oleh peningkatan osmolaritas
cairan ekstarsel. Dapat juga disebabkan karena hipotensi, poliuri atau penurun
volume cairan. Rasa haus merupakan manifestasi klinik dari ketidakseimbangan
cairan, sehingga merangsang individu untuk minum.
2) Pengaruh Hormonal
Ada
2 jenis hormon yang berperan dalam keseimbangan cairan yaitu Antidiuretik
Hormon (ADH) dan Aldosteron.
a) Hormon ADH
ADH
dihasilkan Ihipotalamus yang kemudian disimpan pada hipofisis posterior. ADH
disekresi ketika terjadi peningkatan serum protein, peningkatan osmolaritas,
menurunnya volume CES, latihan/aktivitas yang lama, stress emosional, trauma.
Meningkatkan ADH berpengaruh pada peningkatan reabsorpsi cairan pada tubulus
ginjal. Reaksi mekanisme haus dan hormonal merupakan reaksi cepat jika terjadi
deficit cairan. Faktor yang menghambat produksi ADH adalah hipoosmolaritas,
meningkatnya volume darah, terpapar dingin, inhalasi CO2 dan
pemberian antidiuretik.
b) Hormon aldosteron
Hormon
ini dihasilkan oleh korteks adrenal dengan fungsinya meningkatkan reabsorpsi
sodium dan meningkatkan sekresi dari ginjal. Sekresi aldosteron distimulasi
yang utama oleh sistem renin-angotensin I. angiotensin I selanjutnya akan
diubah menjadi angiotensin II. Sekresi aldosteron juga distimulasi oleh
peningkatan potasium dan penurunan konsentrasi sodium dalam cairan interstisial
dan adrenocortikotropik hormon (ACTH) yang diproduksi oleh pituitary anterior.
Ketika menjadi hipovolemia, maka terjadi tekanan darah arteri menurun, tekanan
darah arteri pada ginjal juga menurun, keadaan ini menyebabkan tegangan otot
arteri afferent ginjal menurun dan memicu sekresi renin. Renin menstimulasi
aldostreon yang berefek pada retensi sodium, sehingga cairan tidak banyak
keluar melaui ginjal.
3) Sistem Limpatik
Plasma
protein an cairan dari jaringan tidak secara langsung direaksorpsi kedalam
pembuluh darah. Sistem limpatik berperan penting dalam kelebihan cairan dan
protein sebelum masuk dalam darah.
4) Ginjal
Ginjal
mempertahankan volume dan konsentrasi cairan dengan filtrasi CES di glomerulus,
sedangkan sekresi dan reabsorpsi cairan terjadi di tubulus ginjal.
5) Persarafan
Mekanisme
persarafan juga berkontribusi dalam keseimbangan cairan dan sodium. Ketika
terjadi peningkatan volume cairan CES, mekanoreseptor merespon pada dinding
atrium kiri untuk distensi atrial dengan meningkatkan stroke volume dan memicu
respons simpatetik pada ginjal untuk pelepasan aldosteron oleh korteks adrenal.
2.7.
Konsentrasi Cairan Tubuh
a. Osmolaritas
Osmolaritas
adalah konsentrasi larutan atau partikel terlarut per liter larutan,diukur
dalam miliosmol. Osmolaritas ditentukan oleh jumlah partikel terlarut per
kilogram air. Dengan demikian osmlaritas menciptakan tekanan osmotik sehingga
mempengaruhi pergerakan cairan. Jika terjadi penurunan osmolaritas CES maka
terjadi pergerakan air dari CES ke CIS,sebaliknya jika terjadi penurunan
osmolaritas CES maka terjadi pergerakan dari CIS ke CES. Partikel yang berperan
dalam osmolaritas adalah sodium atau natrium,urea,dan glukosa.
b. Tonisitas
Tonisitas
merupakan osmolaritas yang menyebabkan pergerakan air dari kompartemen ke
kompartemen yang lain. Ada beberapa istilah yang tekait dengan tonisitas yaitu
:
1) Larutan isotonik yaitu larutan
yang mempunyai osmolaritas sama efektifnya dengan cairan tubuh.
2)
Larutan hipertonik yaitu larutan yang mempunyai osmolaritas efektif
lebih besar dari cairan tubuh.
3) Larutan hipotonik yaitu larutan
yang mempunyai osmolaritas efektiflebih kecil dari cairan tubuh,mengandung
lebih sedikit natrium dan klorida daripada di plasma.
2.8.
Pertukaran Cairan Tubuh
Pertukaran
cairan tubuh terjadi karena danya pergerakan cairan antara kompartemen. Hal ini
terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi cairan. Pertukaran cairan tubuh
terjadi melalui proses difusi,osmosis,dan filtrasi dan transport aktif.
a. Difusi
Gerakan
partikel dari larutan maupun gas secara acak dari area dengan konsentrasi
tinggi ke area dengan konsentrasi
rendah. Proses difusi terjadi ketika partikel melewati lapisan yang tipis.
Kecepatan difusi ditentukan oleh ukuran molekul,konsentrasi larutan dan suhu
larutan. Semakin besar molekul kecepatannya
berkurang. Meningkatnya temperature akan meningkatkan pergerakan molekul
dan mempercepat difusi.
b. Osmosis
Gerakan
air yang melewati membran semipermeabel dari area yang berkonsentrasi rendah ke
area dengan berkonsentrasi tinggi.
Pergerakan cairan dalam proses osmosis tidak terlepas adanya tekanan osmotik
dan tekanan onkotik. Proses osmotic tidak terlepas dari adanya osmolaritas
cairan dan tonisitas.
c. Filtrasi
Gerakan
cairan dari area yang mepunyai tekanan hidrostatik tinggi ke area yang bertekanan
hidrostatik rendah
d. Transport Aktif
Perpindahan
partikel terlarut melalui membran sel dari konsentrasi rendah ke daerah dengan
konsentrasi tinggi dengan menggunakan energi. Proses ini sangat penting dalam
keseimbangan cairan intrasel dan ekstrasel terutama dalam perbedaan kadar
sodium dan potassium. Untuk
mempertahankan porposi ion tersebut diperlukan mekanisme pompa
sodium-potasium,dimana potassium akan masuk dalam sel dan sodium keluar sel.
Definisi
Elektrolit dan kebutuhan elektrolit
Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel
bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan. Elektrolit
terdapat pada seluruh cairan tubuh. Cairan tubuh mengandung oksigen, nutrien,
dan sisa metabolisme (seperti karbondioksida), yang semuanya disebut ion.
Beberpa jenis garam akan dipecah menjadi elektrolit. Contohnya NaCl akan
dipecah menjadi Na+ dan Cl-. Pecahan elektrolit tersebut
merupakan ion yang dapat mengahantarkan arus litrik. Elektrolit adalah
substansi ion-ion yang bermuatan listrik yang terdapat pada cairan. Satuan
pengukuran elektrolit menggunakan istilah milliequivalent (mEq). Satu milliequivalent
adalah aktivitass secara kimia dari 1 mg dari hidrogen.
Ion-ion positif disebut kation.
Contoh kation antara lain natrium, kalium, kalsium, dan magnesium
ion-ion negatif disebut anion.
Contoh anion antara lain klorida, bikarbonat, dan fosfat.
a.
Keseimbangan Elektrolit
Keseimbangan
elektrolit sangat penting, karena total konsentrasi elektrolit akan
mempengaruhi keseimbangan cairan dan
konsentrasi elektrolit berpengaruh pada fungsi sel. Elektrolit berperan dalam
mempertahankan keseimbangan cairan, regulasi asam basa, memfasilitasi reaksi
enzim dan transmisi reaksi neuromuscular. Ada 2 elektrolit yang sangat
berpengaruh terhadap konsentrasi cairan intasel dan ekstrasel yaitu natrium dan
kalium.
1)
Keseimbangan Natrium/sodium (Na+)
Natrium merupakan kation paling banyak pada cairan ekstrasel serta
sangat berperan dalam keseimbangan air, hantaran impuls saraf dan kontraksi
otot. Ion natrium didapat dari saluran pencernaan, makanan atau minuman
kemudian masuk ke dalam cairan ekstrasel melalui proses difusi. Pengeluaran ion
natrium melalui ginjal, pernapasan, saluran pencernaan dan kulit. Pengaturan
konsentrasi ion natrium dilakukan oleh ginjal, jika konsentrasi natrium serum
menurun maka ginjal akan mengeluarkan cairan sehingga konsentrasi natrium akan
meningkat. Sebaliknya jika terjadi peningkatan konsentrasi natrium serum maka
akan merangsang pelepasan ADH sehingga ginjal akan menahan air. Jumlah normal
135-148 mEq/Lt
2)
Keseimbangan kalium/potassium (K+)
Kalium adalah kation yang paling banyak pada intraseluler. Ion
kalium 98% berada pada cairan intasel, hanya 2% berada pada cairan ekstrasel.
Kalium dapat diperoleh melalaui makanan seperti daging, buah-buahan dan
sayuran. Jumlah normal 3,5-5,5 mEq/Lt.
3) Keseimbangan Kalsium (Ca2+)
Kalsium
merupakan ion yang paling banyak dalam tubuh, terutama berikatan dengan fosfor
membentuk mineral untuk pembentukan tulang dan gigi. Diperoleh dari reabsorpsi
usus dan reabsorpsi tulang. Dikeluarkan melalui ginjal, sedikit melalui keringat
dan disimpan dalam tulang. Pengaturan konsentrasi kalsium dilakukan hormon
kalsitonin yang dihasilkan oleh kelnjar tiroid dan hormon paratiroid. Jika
kadar kalsium rendah maka hormon paratiroid dilepaskan sehingga terjadi
peningkatan reabsorpsi kalsium pada tulang dan jika terjadi peningkatan kadar
kalsium maka hormon kalsitonin dilepaskan untuk menghambat reabsorpsi tulang.
Jumlah normal 4-5mEq/Lt.
4) Keseimbangan Magnesium (Mg2+)
Magnesium
biasanya ditemukan pada cairan intrasel dan tulang, berperan dalam metabolisme
sel, sintesis DNA, regulasi neuromuscular dan fungsi jantung. Sumbernya didapat
dari makanan seperti sayuran hijau, daging dan ikan. Magnesium Diabsorpsi dari
usus halus, peningkatan absorpsi dipengaruhi oleh vitamin D dan hormon
paratiroid.
5) Keseimbangan Fosfor (PO4-)
Fosfor
merupakan anion utama cairan intasel, ditemukan juga di cairan ekstrasel,
tulang, otot rangka dan jaringan saraf. Fosfor sangat berperan dalam berbagai
fungsi kimia, terutama fungsi otot, sel darah merah, metabolisme protein, lemak
dan karbohidrat, pembentukan tulang dan gigi, regulasi asam basa, regulassi
kadar kalsium. Di reabsorpsi dari usus halus dan banyak ditemukan dari makanan
daging, ikan dan susu. Disekresi dan reabsorpsi melalui ginjal. Pengaturan
konsentrasi fosfor oleh hormon paratiroid dan berhubungan dengan kadar kalsium.
Jika kadar kalsium meningkat akan menurunkan kadar fosfat demikian sebaliknya.
Jumlah normal sekitar 2,5-4,5 mEq/Lt.
6) Keseimbangan Klorida (Cl-)
Klorida
merupakan anion utama pada cairan ekstrasel. Klorida berperan dalam pengaturan
osmolaritas serum dan volume darah bersama natrium, regulasi asam basa,
berperan dalam buffer pertukaran oksigen dan karbondioksida dalam sel darah
merah. Disekresi dan direabsorpsi bersama natrium diginjal. Pengaturan klorida
oleh hormon aldosteron. Kadar klorida yang normal dalam darah orang dewasa
adalah 95-108mEq/Lt.
7) Keseimbangan Bikarbonat
Bikarbonat
berada di dalam cairan intrasel maupun di dalam ekstrasel dengan fungsi utama
yaitu regulasi keseimbangan asam basa. Disekresi dan direabsorpsi oleh ginjal.
Bereaksi dengan asam kuat untuk membentuk asam karbonat dan suasana garam untuk
menurunkan PH. Nilai normal sekitar 25-29mEq/Lt.
b.
Pengaturan dan Fungsi Elektrolit
Elektrolit
|
Pengaturan
|
Fungsi
|
Sodium
( )
|
Reabsorpsi dan sekresi ginjal
Aldosteron,meningkatkan reabsorpsi natrium di duktus kolekting
nefron
|
Pengaturan dan distribusi volume cairan ekstrasel
Mempertahankan volume darah
Menghantarkan impuls saraf dan kontraksi otot
|
Potassium
( )
|
Sekresi dan konservasi oleh ginjal
Aldosteron meningkatkan pengeluaran
Pemindahan dalam dan luar sel
Insulin membantu memindahkan ke dalam sel dan luar sel,jaringan yang
rusak
|
Mempertahankan osmolaritas dan cairan intrasel
Transmisi saraf dan impuls elektrik
Pengaturan transmisi impuls jantung dan kontraksi otot
Pengaturan asam basa
Kontraksi tulang dan otot polos
|
Kalsium
( )
|
Distribusi antara tulang dan cairan ekstrasel
Hormon paratiroid meningkatkan serum ,kalsitonin
menurunkan kadar serum
|
Pembentukan tulang dan gigi
Transmisi impuls saraf
Pengaturan kontraksi otot
Mempertahankan pace maker jantung
Pembekuan darah
Aktivitas enzim pancreas,seperti lipase
|
Magnesium
( )
|
Dipertahankan dan dikeluarkan oleh ginjal
Meningkan adsorpsi oleh vitamin D dan hormon paratiroid
|
Metabolisme intrasel
Pmpa sodium-potasium
Relaksasi kontraksi otot
Transmisi impuls saraf
Pengaturan fungsi jantung
|
Klorida
( )
|
Pengeluran dan reabsorpsi bersama sodium dalam ginjal
Aldosteron meningkatkan adsorpsi klorida dengan sodium
|
Produksi HCl
Pengaturan keseimbangan cairan ekstrasel dan volume vaskuler
Keseimbangan asam-basa
|
Pospat
( )
|
Eksresi dan reabsorpsi oleh ginjal
Paratiroid hormon menurunkan kadar serum dengan meningkatkan
sekresi ginjal
|
Pembentukan tulang dan gigi
Metabolism karbohidrat,lemak,dan protein
Metabolisme seluler produksi ATP dan DNA
Fungsi otot,saraf,dan sel darah merah
Pengaturan asam-basa
Pengaturan kadar kalsium
|
Bikarbonat
( )
|
Eksresi dan reabsorpsi oleh ginjal
Pembentukan oleh ginjal
|
Buffer utama dalam keseimbangan asam-basa
|
2.11.
Jenis Cairan Elektrolit
Cairan elektrolit adalah cairan saline atau cairan yang memiliki
sifat bertegangan tetap. Cairan saline terdiri atas cairan isotonik, hipotonik,
dan hipertonik. Konsentrasi isotonik
disebut juga normal saline yang banyak dipergunakan. Contohnya:
a.
Cairan Ringer’s, terdiri atas: Na+, K+, Cl-,
dan Ca2+
b.
Cairan Ringer’s Laktat, terdiri atas: Na+, K+, Mg2+,
Cl-, Ca2+, dan HCO3-
c.
Cairan Buffer’s, terdiri atas: Na+, K+, Mg2+, Cl-,
dan HCO3-
2.12.
Gangguan/Masalah Kebutuhan Elektolit
a. Hiponatremia
Hiponatremia
merupakan suatu keadaan kekurangan kadar natrium dalam plasma darah yang
ditandai dengan adanya kadar natrium plasma yang kurang dari 135 mEq/Lt, mual,
muntah dan diare.
b. Hipernatremia
Hipernatremia
merupakan suatu keadaan dimana kadar natrium dalam plasma tinggi yang ditandai
dengan addanya mukosa kering, oliguria/anuria, turgor kulit buruk dan permukaan
kulit membengkak, kulit kemerahan, lidah kering dan kemerahan, konvulsi, suhu
badan naik, serta kadar natrium dalam plasma lebih dari 145 mEq/Lt. kondisi
demikian dapat disebabkan oleh dehidrasi, diare, dan asupan, air yang
berlebihan sedangkan asupan garamnya sedikit.
c. Hipokalemia
Hipoklemia
merupakan suatu keadaan kekurangan kadar kalium dalam darah. Hipokalemia
ini dapat terjadi dengan sangat cepat. Sering terjadi pada pasien yang
mengalami diare yang berkepanjangan dan juga ditandai dengan lemahnya denyut
nadi, turunnya tekanan darah, tidak nafsu makan dan muntah-muntah, perut
kembung, lemah dan lunaknya otot, denyut jantung tidak beraturan (aritmia),
penurunan bising usus, kadar kalium plasma menurun kurang dari 3,5 mEq/L.
d.
Hiperkalemia
Hiperkalemia
merupakan suatu keadaan di mana kadar kalium dalam darah tinggi, sering terjadi
pada pasien luka bakar, penyakit ginjal, asidosis metabolik, pembe:rian kalium
yang berlebihan melalui intravena yang ditandai dengan adanya mual,
hiperaktivitas sistem pencernaan, aritmia, kelemahan, jumlah urine sedikit
sekali, diare, adanya kecemasan dan irritable (peka rangsang), serta kadar kalium
dalam plasma mencapai lebih dari 5 mEq/L.
e.
Hipokalsemia
Hipokalsemia
me:rupakan keekurangan kadar kalsium dalam plasma darah yang ditandai de:ngan
adanya kram otot dan kram perut, kejang, bingung, kadar kalsium dalam plasma
kurang dari 4,3 mEq/L dan kesemutan pada jari dan sekitar mulut yang dapat
disebabkan oleh pengaruh pengangkatan kelenjar gondok atau kehilangan sejumlah
kalsium karena sekresi intestinal.
f.
Hiperkalsemia
Hiperkalsemia merupakan suatu ke;adaan kelebihan kadar kalsium dalam darah yang dapat terjadi pada pasien yang mengalami pengangkatan kelenjar gondok dan makan vitamin D secara berlebihan, ditandai dengan adanya nyeri pada tulang, relaksasi otot, batu ginjal, mual-mual, koma, dan kadar kalsium dalam plasma lebih dari 4,3 mEq/L.
Hiperkalsemia merupakan suatu ke;adaan kelebihan kadar kalsium dalam darah yang dapat terjadi pada pasien yang mengalami pengangkatan kelenjar gondok dan makan vitamin D secara berlebihan, ditandai dengan adanya nyeri pada tulang, relaksasi otot, batu ginjal, mual-mual, koma, dan kadar kalsium dalam plasma lebih dari 4,3 mEq/L.
g.
Hipomagnesia
Hipomagnesia
merupakan kekurangan kadar magnesium dalam darah yang ditandai dengan adanya
iritabilitas, tremor, kram pada kaki dan tangan, takikardi, hipertensi,
disorientasi dan konvulsi. Kadar magnesium dalam darah kurang dari 1,3 mEq/L.
h.
Hipermagnesia
Ilipermagnesia merupakan kondisi kelebihan kadar magnesium dalam darah yang ditandai dengan adanya, koma, gangguan pernapasan, dan kadar magnesium lebih dari 2,5 mEq/L.
Ilipermagnesia merupakan kondisi kelebihan kadar magnesium dalam darah yang ditandai dengan adanya, koma, gangguan pernapasan, dan kadar magnesium lebih dari 2,5 mEq/L.
Faktor
yang Berpengaruh pada Keseimbangan Cairan dan Elektrolit
Faktor-faktor yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan
elektrolit tubuh antara lain :
a.
Umur
Kebutuhan intake cairan bervariasi tergantung dari usia, karena
usia akan berpengaruh pada luas permukaan tubuh, metabolisme, dan berat badan.
Infant dan anak-anak lebih mudah mengalami gangguan keseimbangan cairan
dibanding usia dewasa. Pada usia lanjut sering terjadi gangguan keseimbangan
cairan dikarenakan gangguan fungsi ginjal atau jantung.
b.
Iklim
Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan
kelembaban udaranya rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan tubuh dan
elektrolit melalui keringat. Sedangkan seseorang yang beraktifitas di
lingkungan yang panas dapat kehilangan cairan sampai dengan 5 L per hari.
c.
Diet
Diet seseorag berpengaruh terhadap intake cairan dan elktrolit.
Ketika intake nutrisi tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak
sehingga akan serum albumin dan cadangan protein akan menurun padahal keduanya
sangat diperlukan dalam proses keseimbangan cairan sehingga hal ini akan
menyebabkan edema.
d.
Stress
Stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa darah, dan
pemecahan glykogen otot. Mrekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan retensi
air sehingga bila berkepanjangan dapat meningkatkan volume darah
e.
Kondisi Sakit
Kondisi sakit sangat berpengaruh terhadap kondisi keseimbangan
cairan dan elektrolit tubuh. Misalnya :
Trauma seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan air melalui
IWL.
Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses
regulator
keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
Pasien dengan penurunan tingkat kesadaran akan mengalami gangguan
pemenuhan intake
cairan karena kehilangan kemampuan untuk memenuhinya secara mandiri.
cairan karena kehilangan kemampuan untuk memenuhinya secara mandiri.
f.
Tindakan Medis
Banyak tindakan medis yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan
elektrolit tubuh seperti : suction, nasogastric tube dan lain-lain.
g.
Pengobatan
Pengobatan seperti pemberian deuretik, laksative dapat berpengaruh
pada kondisi cairan dan elektrolit tubuh.
h.
Pembedahan
Pasien dengan tindakan pembedahan memiliki resiko tinggi mengalami
gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, dikarenakan kehilangan darah
selama pembedahan.
Keseimbangan
Asam Basa
Disamping air dan elektrolit cairan tubuh juga mengandung
asam-basa, seperti asam karbonat ( ).
Keadaan asam dan basa ditentukan oleh adanya pH cairan tubuh. pH adalah sImbol
dari adanya ion hydrogen dalam larutan pH netral adalah 7, jika dibawah 7 maka
disebut asam dan diatas 7 disebut basa. Sedangkan pH plasma normal aldalah
7,35-7,45. Untuk memperthankan pH plasma normal dalam tubuh terdapat buffer
asam-basa yaitu larutan yang terdiri dari dua atau lebih zat kimia untuk
mencegah terjadinya perubahan ion hydrogen.
Keseimbangan
asam-basa ditentukan oleh pengaturan buffer pernafasan dan ginjal.
a. Sistem Buffer
Buffer
membantu mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan menetralisir kelebihan
asam melalui pemindahan atau pelepasan ion hydrogen. Jika terjadi kelebihan ion
hydrogen pada cairan tubuh maka buffer akan meningkat ion hydrogen sehingga
perubahan pH dapat diminimalisir. Sistem buffer utama pada cairan ekstraseluler
adalah bikarbonat ) dan asam karbonat ( ). Selain itu untuk mempertahankan
keseimbangan pH juga berperan plasma protein,hemoglobin,dan posfat.
b. Pengaturan pernapasan
Paru-paru
membantu mengatur keseimbangan asam-basa dengan cara mengeluarkan
karbondioksida. Karbondioksida secara kuat menstimulasi pusat pernapasan.
Ketika karbondioksida dan asam bikarbonat dalam darah meningkat pusat
pernapasan distimulasi sehingga menjadi meningkat. Karbondioksida dikeluarkan
dan asam karbonat menjadi turun. Apabila
bikarbonat berlabihan maka jumlah pernapasan akan diturunkan.
Pengaturan
pernapasan dan ginjal saling bekerja sama dalam mempertahankan keseimbangan
asam basa. Di paru-paru karbondioksida bereaksi dengan air membentuk asam
karbonat, yang kemudian asam karbonat akan dipecah di ginjal menjadi hidrogen
dan bikarbonat.
Paru-Paru
Ginjal
CO2
+ H2O
↔
H2CO3
↔ H + HCO3
(asam karbonat)
|
c. Pengaturan oleh Ginjal
Pengaturan
keseimbangan asam-basa oleh ginjal relative lebih lama dibandingkan dengan
pernapasan dan sistem buffer yaitu beberapa jam atau beberapa hari stelah
adanya ketidak-seimbangan asam-basa. Ginjal mempertahankan keseimbangan
asam-basa dengan pengeluaran selektif bikarbonat dan ion hydrogen. Ketika
kelebihan hydrogen terjadi dan pH menjadi turun (asidosis) maka ginjal
mereabsorpsi bikarbonat dan mengeluarkan ion hydrogen. Pada keadaaan alkalosis atau pH tinggi,maka ginjal
akan mengeluarkan bikarbonat dan menahan ion hydrogen. Normalnya kadar serum
bikarbonat 22-26 mEq/L.
2.15.
Gangguan/Masalah Keseimbangan Asam Basa
Jika
kadar pH kurang dari 7,35 disebut asidodis sedangkan jika lebih dari 7,45
disebut alkalosis. Ketidakseimbangan asam-basa diklasifukasikan sebagai berikut
:
a. Asidosis Metabolik
Asidosis
Metabolik merupakan keadaan dimana asam metabolic yang diproduksi secara normal
tidak dapat dikeluarkan pada kecepatan normal atau adanya kekurangan basa
bikarbonat, sehingga pH menjadi menurun. Penyebabnya adalah ketoasidosis
diabetik,diare berat,penyakit ginjal dan hati. Hasil analisa gas darah : pH
menurun, menurun, normal.
b. Asidosis
Respiratorik
Asidosis
Respiratorik merupakan keadaan dimana terjadi peningkatan asam karbonat dan
meningkatnya kadar akibat
tidak optimalnya ventilasi paru,sehingga karbondioksida sedikit dikeluarkan.
Kompesasi dari keadaan ini dengan pernapasan cepat. Penyebabnya adalah
pneumonia, peumothorak, hemotorak, edema paru, asma bronchial, atelaktasis,
emfisema, overdosis obat-obatan, cedera kepala, dan stroke. Hasil analisa gas
darah : pH menurun, meningkat, normal.
c. Alkalosis Metabolik
Alkalosis
Metabolik merupakan dimana terjadi peningkatan pH plasma akibat peningkatan
basa bikarbonat atau menurunnya konsentrasi hydrogen. Penyebabnya adalah
penggunaan obat bikarbonat,terapi diuretic,muntah yang berkepanjangan (
keluarnya HCl ),penggunaan antacid. Hasil analisa gas darah : pH meningkat, meningkat, normal.
d. Alkalosis Respiratorik
Alkalosis
Respiratorik terjadi ketika banyak yang dikeluarkan terlalu cepat,sehingga
terjadi penurunan kadar darah dan penurunan asam karbonat,pH menjadi
meningkat. Penyebabnya adalah : demam tinggi,anemia berat,kecemasan
akut,keracunan aspirin. Hasil analisa gas darah : pH meningkat, menurun, normal.
Hasil
Analisa Gas Darah Ketidakseimbangan Asam-Basa
Kondisi
|
Ph
|
||
Asam
basa seimbang
|
7,35-7,45
|
22-26
mEq/L
|
35-45
mmHg
|
Asidosis
metabolik
|
<
7,35
|
<
22 mEq/L
|
Normal
atau < 35
|
Asidosis
respiratorik
|
<
7,35
|
Normal
atau >26
|
>45
mmHg
|
Alkalosis
metabolik
|
>7,45
|
>26
mEq/L
|
Normal
atau >45
|
Alkalosis
respiratorik
|
>7,45
|
Normal
atau < 22
|
<
35 mmHg
|
Pada wanita hamil, ketika usia kehamila 10 minggu terjadi penurunan
sekitar
5 mmHg (Lowdermilk,2000). Hormon progesteron mungkin bertanggun jawab terhadap
peningkatan sensetifitas dari reseptor pusat pernapasan sehingga tidal volume
meningkat dan menjadi menurun,base exes
(bikarbonat) menjadi menurun,pH meningkat menimbulkan respiratori alkalosis.
Fisiologi Elektrolit (cairan
intraseluler,ekstraseluluer,intertisil)
a. Cairan Intraselular
Cairan
intrasel merupakan cairan yang berada dalam sel di seluruh tubuh. Cairan ini
berfungsi sebagai media penting dalam proses kimia. Jumlahnya sekitar 2/3 dari
jumlah cairan tubuh atau 40% dari berat badan. Elektrolit kation terbanyak
adalah K+, Mg+, sedikit Na+. Elektolit anion
terbanyak adalah HPO42-, protein-protein, sedikit HCO3-,
SO42-, Cl-
b. Cairan Ekstrasel
Cairan
ekstrasel merupakan cairan yang berada diluar sel, jumlahnya sekitar 1/3 dari
total cairan tubuh atau sekita 20% dari berat badan. Cairan ekstrasel berperan
dalam transport nutrient, elektrolit dan okseigen ke sel dan membersihkan hasil
metabolisme untuk kemudian dikeluluarkan dari tubuh, regulasi panas, sebagai
pelumas pada persendian dan membran mukosa, penghancuran makanan dalam proses
pencernaan.
Cairan
ekstrasel terdiri dari:
1) Cairan interstisial
Cairan
Interstisial merupakan cairan yang berada disekitar sel misalnya cairan limfe,
jumlahnya sekitar 10%-15% dari cairan ekstrasel. Relatif terhadap ukuran tubuh, volume ISF
adalah sekitar 2 kali lipat pada bayi baru lahir dibandingkan orang
dewasa.
2) Cairan intavaskuler
Cairan
Intravaskuler adalah cairan yang terkandung dalam pembuluh darah misalnya
plasma, jumlahnya sekitar 5% dari cairan ekstrasel. Hingga saat ini belum ada
alat yang tepat/pasti untuk mengukur jumlah darah seseorang, tetapi jumlah
darah tersebut dapat diperkirakan sesuai dengan jenis kelamin dan usia,
komposisi darah terdiri dari kurang lebih 55%plasma, dan 45% sisanya terdiri
dari komponen darah seperti sel darah merah, sel darah putih dan platelet.
3) Cairan transelular
Cairan
Transelular merupakan cairan yang berada pada ruang khusus seperti cairan
serebrospinalis, perikardium, pleura, sinova, air mata, intaokuler dan sekresi
lambung, jumlahnya sekitar 1%-3%.
Didalam
cairan ekstrasel terdapat elektrolit kation terbanyak Na+, sedikit
K+, Ca2+, Mg2+ serta elektrolit anion
terbanyak Cl- , HCO3-, protein pada plasma,
sedikit HPO42-SO42-.
Human Body:
|
Pertanyaan 3
Sebutkan fungsi
dari Albumin !
Jawaban
Albumin (bahasa
Latin: albus, white) adalah
istilah yang digunakan untuk merujuk ke segala jenis protein monomer
yang larut dalam air dan larutan garam, dan mengalami koagulasi
saat terpapar panas. Substansi yang mengandung albumin, seperti putih
telur, disebut albuminoid.
Pada manusia,
albumin diproduksi oleh retikulum endoplasma di dalam hati
dalam bentuk proalbumin,
kemudian diiris oleh badan Golgi untuk disekresi
memenuhi sekitar 60% jumlah serum
darah dengan konsentrasi antara 30 hingga 50 g/L[1]
dengan waktu paruh sekitar 20 hari. Albumin memiliki berat molekul
sekitar 65 kD dan terdiri dari 584 asam
amino tanpa karbohidrat. Gen
untuk albumin terletak pada kromosom 4,
dengan panjang sekitar 16.961 nukleotida
dengan 15 ekson
yang terbagi ke dalam 3 domain simetris, sehingga diperkirakan merupakan triplikasi
dari domain primordial yang tunggal. Tiap domain terbagi lagi menjadi
masing-masing 2 sub-domain.
Mutasi
pada gen ini dapat mengakibatkan berbagai macam protein dengan fungsi yang
tidak beraturan (bahasa Inggris: anomalous protein) oleh
karena perubahan sifat pada domain pencerapnya, oleh karena itu, spesi reaktif
oksigen, spesi reaktif
nitrogen dan produk dari hasil reaksi dengan biomolekul
lain seperti produk peroksidasi lipid,
terjadi secara fisiologi dan patofisiologi
dengan adanya albumin.
Fungsi
albumin
Memelihara tekanan onkotik.
Tekanan onkotik yang ditimbulkan oleh albumin akan memelihara fungsi ginjal dan
mengurangi edema
pada saluran pencernaan,[2] dan
dimanfaatkan dengan metode hemodilusi
untuk menangani penderita serangan stroke
akut.
Mengusung
hormon lain, khususnya yang dapat larut dalam lemak
Mengusung bilirubin
Mengikat ion Ca2+
Sebagai larutan
penyangga
Sebagai protein
radang fase-akut
negatif. Konsentrasi albumin akan menurun sebagai pertanda fase akut respon
kekebalan tubuh
setelah terjadi infeksi, namun bukan berarti bahwa tubuh sedang dalam keadaan kekurangan nutrisi
Pertanyaan 4
Jelaskan
perbedaan antara leukosit granular dan non granular !
Jawaban :
Dalam mata pelajaran biologi
atau mata kuliah biologi istilah leukosit sering dikemukakan oleh guru atau pun
dosen. Namun mungkin kita sudah lupa tentang leukosit itu. i Apa yang dimaksud
dengan leukosit atau apa pengertian leukosit itu? Menurut pendapat Effendy
(2003) pengertian leukosit adalah sel darah yang mengandung inti, disebut juga
sel darah putih.Rata-rata jumlahleukosit dalam darah manusianormal adalah
5000-9000/mm3, bila jumlahnya lebih dari 10.000/mm3,keadaan ini disebut
leukositosis, bila kurang dari 5000/mm3 disebut leukopenia.. Lebih lanjut
Effendy (2003) mengatakan bahwa leukositterdiri dari dua golongan utama,yaitu
agranular dangranular. Leukosit agranular mempunyai sitoplasma yang tampak
homogen, dan intinya berbentuk bulat atau berbentuk ginjal. Leukosit granular
mengandung granula spesifik (yang dalam keadaan hidup berupa tetesan setengah
cair) dalam sitoplasmanya dan mempunyai inti yang memperlihatkanbanyak variasi
dalam bentuknya. Terdapat 2 jenis leukosit agranular yaitu; limfosit yang
terdiri darisel-selkecil dengan sitoplasma sedikit, dan monosit yang terdiri
dari sel-sel yang agakbesar dan mengandungsitoplasma lebih banyak. Terdapat 3
jenis leukosit granular yaitu neutrofil, basofil, dan asidofil (eosinofil).
Kemudian Effendy (2003)
juga menjelaskan bahwa leukosit mempunyai peranan dalam pertahanan seluler dan
humoral organisme terhadap zat-zat asingan. Leukosit dapat melakukan gerakan
amuboid dan melalui proses diapedesis leukosit dapat meninggalkan kapiler
dengan menerobos antara sel-sel endotel dan menembus kedalam jaringan
penyambung.
Jumlah leukosit per
mikroliter darah,pada orang dewasa normal adalah 5000-9000/mm3, waktu lahir
15000-25000/mm3, dan menjelang hari ke empat turun sampai 12000, pada usia 4
tahun sesuai jumlah normal. (Effendi, Z., 2003)
A.Hematopoiesis
Normalnya proses hematopoiesis bergantung pada interaksi
komplek dari beberapa tipe sel, terutama sel induk hematopoiesis
(stem cell)
dan progenitor sel,serta sel mikroenvironment pada sumsum tulang
yaitu sel stroma. Hematopoiesis bermula dari suatu sel induk pluripoten
bersama yang menyebabkan timbulnya berbagai jalur sel yang terpisah.
Fenotip sel induk manusia yang tepat belumdiketahui, tapi pada uji imunologik
sel tersebut adalah CD34+ dan CD38-.
Diferensiasi sel terjadi dari sel induk menjadi jalur eritroid,
granulositik,dan jalur lain melalui progenitor hemopoietik terikat yang
terbatas perkembangannya. Salah satu contohnya adalah prekusor mieloid
campuran yangterdeteksi paling dini, dimana menyebabkan timbulnya granuloist, erutrosit,monosit,
dan megakariosit. Progenitor ini dinamakan
CFU (colony-forming unit)
.Sumsum tulang juga merupakan tempat asal utama limfosit dan
terdapat buktiadanya sel prekusor sistem mieloid dan limfoid.
Selama proses hematopoiesis, stroma sumsum tulang membentuk lingkungan
yang sesuai untuk proliferisasi dan diferensiasi sel induk. Sumsumtulang
tersusun atas sel stroma dan jaringan mikrovaskular. Sel stroma meliputisel
lemak (adiposit), fibroblas, sel retikulum, sel endotel, dan makrofag.. Sel-seltersebut
mensekresi molekul ekstraselular seperti kolagen, glikoprotein(fibronektin dan
trombospondin), serta glikosaminoglikan ( asam hialuronat dandan derivat
kondroitin) untuki membentuk suatu matriks ekstraselular. Selain itu,sel stroma
mensekresi beberapa faktor pertumbuhan yang diperlukan bagikelangsungan hidup
sel induk
B. SINTESIS LEUKOSIT DAN JENIS-JENIS LEUKOSIT
Sintesis leukosit di sumsum tulang merupakan salah satu bagian
dari proses hematopoiesis pada manusia. Sintesis leukosit dibagi menjadi
duakelompok besar yaitu fagosit dan imunosit. Fagosit meliputi sintesis
sel-selgranulosit (leukosit dengan sitoplasma bergranula), yaitu basofil,
eosinofil, dannetrofil serta sel agranulosit (leukosit dengan sitoplasma tidak
bergranula) yaitumonosit. Sementara itu, imunosit akan mensintesis limfosit
yang merupakan jenisleukosit agranular.
1.GranulopoiesisGranulosit dan monosit dalam darah dibentuk dalam
sumsum tulang darisuatu prekusor yang sama, yaitu Colony Forming Unit (CFU)-
Granulosit Eritroid,Monosit, dan Megakariosit (GEMM). Sel prekusor ini
merupakan mieloidcampuran yang berasal dari sel induk pluripoten.1 Sel-se
granulosit setelah keluar dari sumsum tulang dan masuk ke peredaran darah
biasanya berada dalam peredaran darah selama 8 jam dan 4-5 hari pada jaringan
yang membutuhkan,misalnya jaringan yang megalami peradangan
B. SINTESIS LEUKOSIT DAN JENIS-JENIS
LEUKOSIT
Sintesis leukosit di sumsum tulang merupakan salah satu bagian
dari proses hematopoiesis pada manusia. Sintesis leukosit dibagi menjadi
duakelompok besar yaitu fagosit dan imunosit. Fagosit meliputi sintesis
sel-selgranulosit (leukosit dengan sitoplasma bergranula), yaitu basofil,
eosinofil, dannetrofil serta sel agranulosit (leukosit dengan sitoplasma tidak
bergranula) yaitumonosit. Sementara itu, imunosit akan mensintesis limfosit
yang merupakan jenisleukosit agranular.
1.GranulopoiesisGranulosit dan monosit dalam darah dibentuk dalam
sumsum tulang darisuatu prekusor yang sama, yaitu Colony Forming Unit (CFU)-
Granulosit Eritroid,Monosit, dan Megakariosit (GEMM). Sel prekusor ini
merupakan mieloidcampuran yang berasal dari sel induk pluripoten.1 Sel-se granulosit
setelah keluar dari sumsum tulang dan masuk ke peredaran darah biasanya
berada dalam peredaran darah selama 8 jam dan 4-5 hari pada jaringan yang
membutuhkan,misalnya jaringan yang megalami peradangan.

Granulopoiesis meliputi enam tahapan, mulai dari mieloblas di
sumsumtulang sampai tahapan segmen
yang berada di darah tepi. Tahapan sintesis selgranulopoiesis dimulai dari
mieloblas, promielosit, mielosit, metamielosit,staf/batang, dan segmen. Tahapan
ini berlaku bagi semua seri, baik basofil,eosinofil, dan netrofil.
a.Mieloblas
Merupakan tahapan paling awal dari
granulopoiesis. Mieloblas merupakansel muda
dengan ukuran yang besar dan hanya terdapat di dalam sumsum tulangsaja
pada kondisi normal. Ciri-ciri mieloblas adalah sebagai berikut ;
Ukuran sel:
15 - 25µm,
bentuk sel:
oval, kadang-kadang
bulat.
Warna sitoplasma:
biru,tanpa halo perinuklear jelas atau dengan halo dengan halo
perinuklear melebar.
Granularitas:
sitoplasma nongranular atau sedikit granula azurofilik atau
tanpagranula azzurofilik.
Bentuk inti:
biasanya oval, kadang-kadang tidak teratur, jarang bulat.
Tipe kromatin:
halus, dengan tampilan reticular
, nukleolus:
tampak, ukuran sedang atau besar 1 sampai 4; lebih terang dari
kromatin.
Rasiointi/sitoplasma:
tinggi atau sangat tinggi .
Keberadaan di darah
tepi
tidak ada,
keberadaan di
sumsum tulang:
< 5% .
b.Promielosit
Promielosit masih merupakan sel muda dan hanya berada di
sumsumtulang saja. Sel ini sudah dapat dibedakan serinya dengan melihat
warnasitoplasma dan ukuran granula. Promielosit memiliki ciri-ciri sebagai
berikut ;
ukuran sel
15 - 30
µ
m,
bentuk sel
oval atau bulat,
warna sitoplasma
birumuda, dengan halo jelas,
granularitas
pekat, azurofilik banyak.
Bentuk inti
oval,
tipe kromatin
awal kondensasi,
nucleolus
tampak ukuran sedang atau besar ,lebih terang, kromatin, 1-2,
kadang-kadang tak terlihat.
Ratio inti/sitoplasma
tinggi..
Keberadaan di peredaran darah
tidak ada, sementara di
sumsumtulang:
< 5 % (netrofil), < 1% (eosinofil), < 1% (basofil).
c.Mielosit
Sama seperti mieloblas dan promielosit, mielosit masih
merupakanstadium muda dari leukosit agranular dan normalnya hanya ditemukan di
sumsumtulang saja. Ciri-ciri mielosit adalah sebagai berikut ;
Ukuran sel
15 - 25
µ
m,
bentuk sel
oval, kadang-kadang bulat,
warna sitoplasma
biru, tanpa halo perinuklear jelas atau dengan halo
perinuklear melebar. Sitoplasma nongranular atau sedikit granula
azurofilik,
bentuk inti
biasanya oval, kadang-kadang tidak teratur, jarang
bulat.
Tipe kromatin
halus, dengan tampilan reticular, nucleolustampak, ukuran sedang
atau besar 1 sampai 4; lebih terang dari kromatin.
Rasiointi/sitoplasma
sedang.
Keberadaan di darah
tidak ada, sementara di sumsumtulang
sumsum tulang:
< 5% .
d.Metamielosit
Metamielosit juga masih merupakan stadium muda dari sel
granulosit,sama seperti mielosit. Metamielsoit sudah dapat dibedakan jenisnya
denganmelihat warna sitoplasma dan ukuran granula. Metamielosit normalnya
hanya berada pada sumsum tulang saja. Ciri-ciri metamielosit adalah
sebagai berikut ;
ukuran sel:
14 - 20µm,
bentuk sel:
oval atau bulat,
warna sitoplasma pink,granula
sedikit azurofilik dan neutrofilik, berbeda dalam jumlah.
Bentuk inti
lonjong, semicircular,
tipe kromatin
padat , nucleolus tidak terlihat.
Rasiointi/sitoplasma
sedang.
Keberadaan darah
tidak ada, sementara di
sumsumtulang:
10 - 25 %
e.Staf/ Batang
Staf/ batang juga masih merupakan stadium muda sel granulosit,
banyak ditemukan di sumsum tulang, tapi juga sudah ditemukan dalam jumlah
sedikit didalam peredaran darah (<5%). Staf memiliki ukuran sel yang lebih
kecil daristadium muda sebelumya dan dapat dibedakan dengan lebih jelas
jenisnya denganmelihat warna sitoplasma dan ukuran granula. Ciri-ciri staf
adalah sebagai berikut ;
ukuran sel:
14 - 20
µ
m,
bentuk sel
oval atau bulat,
warna sitoplasma
sesuai dengan jenis granulosit (basofil : biru, eosinofil : merah,
netrofil : jernihatau pink),
granularitas
sedikit azurofilik.
Bentuk inti:
lonjong, semicircular,
tipe kromatin
padat, nucleolus tidak terlihat.
Rasio inti/sitoplasma
rendah atausangat rendah.
Keberadaan di peredaran darah
< 5% , sementara di
sumsumtulang:
5 - 20 % (netrofil) , < 2 % (eosinofil).
Leukosit ini dibagi menjadi 2:
Limfosit dan monosit
Limfosit (en:lymphocyte) adalah sejenis sel darah putih pada sistem kekebalan makhluk vertebrata[1]. Ada dua kategori besar limfosit, limfosit berbutiran besar (large granular lymphocytes) dan limfosit kecil. Limfosit memiliki peranan penting dan terpadu dalam sistem pertahanan tubuh.
Limfosit dibuat di sumsum tulang hati (pada fetus) dengan bentuk awal yang sama tetapi kemudian berdiferensiasi. Limfosit dapat menghasilkan antibodi pada anak-anak dan akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia.
Limfosit
- Ukuran: 10 – 15 mm
- Bentuk: bulat, kadang-kadang oval
- Warna sitoplasma: biru
- Granularitas: tidak ada
- Bentuk inti: bulat atau agak oval
- Tipe kromatin: homogen, padat
- Rasio inti/sitoplasma: tinggi atau sangat tinggi
- Nukleolus: tidak terlihat, kadang-kadang hampir tidak terlihat , satu nukleolus kecil
- Distribusi: darah: 25 – 40 % ; sumsum tulang: 5 – 20 %
Monosit (bahasa Inggris: monocyte, mononuclear) adalah kelompok darah putih yang menjadi bagian dari sistem kekebalan. Monosit dapat dikenali dari warna inti selnya.
Pada saat terjadi peradangan, monosit :
- bermigrasi menuju lokasi infeksi
- mengganti sel makrofaga dan DC yang rusak atau bermigrasi, dengan membelah diri atau berubah menjadi salah satu sel tersebut.
Monosit
- Ukuran: 15 – 25 mm
- Bentuk: bulat, oval atau tidak teratur
- Warna sitoplasma: abu-abu biru
- Granularitas: tidak ada atau sedikit granul azurofilik halus
- Bentuk inti: biasanya tidak teratur
- Tipe kromatin: kromatin kasar, berkelompok
- Rasio inti/sitoplasma: sedang atau rendah
- Nukleolus: tak terlihat
- Distribusi: Darah: 4 – 8 % ; sumsum tulang: < 2 %
Umumnya terdapat dua pengelompokan makrofaga berdasarkan aktivasi monosit, yaitu makrofaga hasil aktivasi hormon M-CSF dan hormon GM-CSF. Makrofaga M-CSF mempunyai sitoplasma yang lebih besar, kapasitas fagositosis yang lebih tinggi dan lebih tahan terhadap infeksi virus stomatitis vesikular. Kebalikannya, makrofaga GM-CSF lebih bersifat sitotoksik terhadap sel yang tahan terhadap sitokina jenis TNF, mempunyai ekspresi MHC kelas II lebih banyak, dan sekresi PGE yang lebih banyak dan teratur. Setelah itu, turunan jenis makrofaga akan ditentukan lebih lanjut oleh stimulan lain seperti jenis hormon dari kelas interferon dan kelas TNF.[3]
Stimulasi hormon sitokina jenis GM-CSF dan IL-4 akan mengaktivasi monosit dan makrofaga untuk menjadi sel dendritik